Wayang : Bayang-bayang Hidup Manusia

 

Gunungan

Oleh : Haendarsah Prijotomo

wayang-bayang-bayang-adiluhung-refleksi-hidup-manusia. Wayang sebagai seni budaya klasik tradisional Jawa merupakan sebuah Maha Karya cipta ciptaan para leluhur  yang bermakna bayang-bayang atau “shade”.

Bayang-bayang di sini adalah berbagai bentuk persona boneka yang dimainkan oleh dalang yang mengandung banyak kiasan (Pasemon) yang mengandung fenomena-fenomena tentang hidup dan kehidupan manusia dan mempertunjukkan problematik eksistensi kehidupan manusia.

Sejarah menyatakan bahwa pertunjukan wayang mulai dikenal dan dipagelarkan sejak zaman Balitung sekitar tahun 907 M (Clair Holt ) dan J Brandes menyatakan bahwa wayang sudah dikenal  di Indonesia sejak zaman Prapanca  sekitar tahun 778 M sedang Robert von Heini Geldern dan K.A.H. Hidding menyatakan bahwa wayang sudah dipagelarkan sejak zaman Megalitik sekitar 1500SM   (Bayang-bayang Adiluhung, S Haryanto 1992)

Cerita-cerita wayang dipengaruhi oleh kebudayaan dari India yaitu kebudayaan Hindu. Dewa-dewa yang  yang terdapat dalam ajaran (agama Hindu) dianggap sebagai leluhur oleh Penduduk Indonesiaterutama penduduk Jawa sehingga cerita-cerita mitos epos Hindu juga dapat diterima sebagai cerita masyarakat yang kemudian dijadikan patokan (Babon) untuk dipentaskan oleh sang dalang.

Seperti diketahui pula, Kitab Mahabharata diterjemahkan dari bahasa sansekerta ke dalam bahasa Jawa Kuno pada zaman pemerintahan Airlangga (1019-1042) .

Dari Prasasti Canggal 732M dapat diketahui penyebaran cerita Mahabharata di Jawa sejalan dengan ajaran Siwa sejak abad ke VIII

Dari suatu keterangan yang terdaapat pada Candi Cangkuang Jawa Barat diperoleh Informasi bahwa agama Siwa telah berkembang sejak abad ke VIII

Dari kedua prasasti tersebut masyarakat Jawa telah mengenal wayang sejak abad ke VIII dengan cerita-cerita Mahabharata dan Ramayana sebagai babonnya.  (Bayang-bayang Adiluhung, S Haryanto 1992)

Meskipun asal muasalnya cerita-cerita wayang dari India (kebudayaan Hindu)  setelah kedatangan Agama Islam Wayang, sejarah wayang di Indonesia mengalami proses pengembangan dengan segala tradisi seni rupa Islam.

Ajaran Islam sangat melarang umatnya melukis ataupun membuat sesuatu yang berbentuk serta menyerupai manusia.

Oleh karena itu wayang yang diciptakan oleh para wali digambarkan bentuk-bentuk manusia secara abstrak dekoratif.

Salah Suatu hasil karya cipta yang sarat akan simbolisme terdapat dalam bentuk Gunungan atau Kayon yang merupakan ciptaan Sunan Kalijaga tahun 1443 Saka.

Di dalam Gunungan tersirat suatu ungkapan bergelora yaitu semangat menuju cita-cita demi keselamatan jiwa manusia agar terhindar dari bencana nafsu indria yang tak terkendalikan dengan cara menyucikan diri berdasarkan iman dan keimanan.

Pagelaran wayang  biasa dipentaskan dengan waktu cukup lama semalam suntuk. Pada masa yang lalu karena belum ada lampu maka sebagai penerangannya dipergunakan lampu yang terbuat dari lampu minyak. Lampu ini biasa disebut Blencong.

Oleh karena dipergunakannya lampu minyak tanah (Blencong) sebagai penerangannya maka di balik layar yang dilihat dari sisi penonton maka akan tampak bayangan yang dapat dinikmati.

Dari sinilah pertunjukan ini disebut dengan wayang.

Dari sudut pandang Filosofis  pertunjukan ini juga merupakan pencerminan ataupun refleksi dari bayang-bayang perjalanan hidup manusia yang dapat diambil hikmahnya sebagai pedoman hidup manusia.

Dalam pementasan pertunjukan wayang akan selalu di gambarkan pergolakan antara perbuatan baik dan perbuatan jahat dengan segala pernik-perniknya. Yang pada akhirnya perbuatan baik lah yang akhirnya mendapat kan kemenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s